TIFUS DISEBABKAN OLEH BAKTERI YANG TERDAPAT PADA MAKANAN DAN MINUMAN YANG
SUDAH TERKONTAMINASI
Siti Rahmawati
S.Tr Keperawatan Lawang
Watirahma428@Gmail.com
ABSTRAK :
Penyakit tifus disebabkan oleh bakteri salmonella
yang merupakan bakteri gram negative. Salmonella
merupakan bakteri tidak berspora, berbentuk batang, dan bersifat garam negatif.
Ukuran bakteri salmonella adalah 1-3.5µm x 0.5-0.8µm.Salmonella tahan terhadap bahan
kimia tertentu dan tahan terhadap air yang membeku pada waktu yang lama.
penyakit tifus adalah penyakit infeksi akut yang
terdapat dalam saluran cerna. Jika terlambat mengobati infeksi ini bisa
berakibat fatal karna kekebalan tubuh yang sangat berkurang. Gejala yang
dialami biasanya dengan mual-mual, muntah, bahkan sampai kematian. Pencegannya
bisa dengan mencuci tangan sebelum makan dan menjaga kebersihan makanan yang
akan dikonsumsi.
KATA KUNCI : penyebab,
bakteri,gejala, kebersihan.
PENDAHULUAN
Sekarang
ini di Indonesia masih banyak yang terjangkit tifus
“tifus
disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi yang terdapat pada makanan maupun air
yang terkontamina” (nur, fatmawati, utami, 2017:87). Tifus merupakan penyakit
infeksi bakterial akut oleh kuman Salmonella Typhi. Kurang terjaganya pemeliharaan
kebersihan adalah penyebab timbulnya
penyakit tifus menurut (farida, hesti, Luciana, 2007). “Tifus Abdominalis
merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus dengan gejala demam satu minggu
atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan
kesadaran” (isna, 2017:1). penyakit tifus adalah infeksi penyakit akut yang
terdapat dalam saluran pencernaan dengan ganguan kesadaran dan gejala demam
yang lebih dari satu minggu menurut (inesty, 2014).
Tifus
disebabkan oleh bakteri salmonella penyakit infeksi akut di usus halus pada
makanan atau air yang sudah tekontaminasi dan kurangnya pemeliharaan
kebersihan yang menyebabkan demam
disertai dengan gangguan kesadaran. (inesty, 2004) “Salmonella banyak ditemui
pada makanan-makanan yang tidak dibuat atau diproduksi secara higiens, oleh
karena itu sebaiknya kita menghindari ataupun mengurangi makanan yang kurang
higienis”.
Bakteri
salmonella dibagi menjadi 3 spesies yaitu
1.salmonella
typhosa
2.salmonella
choleraisius
3.salmonella
entereditis (rampengan, 2007).
Etiologi
“Etiologi
demam tifoid adalah salmonella enteritica serovar typhi”
(repository.unisba.ac.id).
Menurut
nasronudin salmonella typhi dibagi menjadi 3 macam gen:
-antigen
O (somatik) struktur kimia lipopolisakarida, pada tubuh bakteri terletak pada
lapisan luar, tahan terhadap panas tapi tidak tahan terhadap formaldehid
-Antigen h (flagella)
tahan terhadap formaldehit tapi tidak denganpanas dan alcohol
-Antigen
vi (virulen) polisakarida dan melindungi permukaan sel
-Antigen
tersebut menimbulkan antibody agglutinin.
Dalam
masyarakat penyakit ini biasa disebut dengan tipes atau tifus tapi dalam
kedokteran penyakit ini biasa disebut dengan typhoid fever. Penyakit tifus pada
orang dewasa biasanya lebih berat dibandingan dengan anak. Awal gejala yang
dialami biasanya demam, nyeri kepala, pusing, mual, muntah serta diare
(rempengan, 2007). Gejala tifus terjadi selama 10 sampai 20 hari. Jika gejala
yang dialami demam,suhu tubuh tidak meningkat terlalu tinggi. minggu pertama
suhu tubuh terus minggat setiap hari biasanya menurun dipagi hari dan meningkat
di malam hari. Pada minggu kedua demam sepanjang hari dan pada minggu ketiga
suhu mulai turun dan normal kembali (Hassan, 2007).
Demam
pada anak lebih rendah tidak seperti pada orang dewasa.
Gejala
gangguan saluran pencernaan pada tifus ditandai dengan bau nafas yang tidak
sedap, bibir pecah dan kering serta perut kembung. Beberapa hari setelah panas
meningkat lidah terlihat kering dan dilapisi dengan selaput tebal. Gejala
gangguan kesadaran pada tifus umumnya menurun. Jika penyakitnya berat dan
terlambat menjalani pengobatan pasien akan mengalami koma atau gelisah. Gejala
pada badan minggu pertama demam terdapat bintik-bintik kemerahan karena emboli
basil di dalam kapiler kulit. Kadang juga ditemukan bradikardia dan epistaksis
pada remaja (Hassan, 2007). Pada akhir minggu pertama dan awal minggu kedua
terjadi roseola (rampengan, 2007).
“Pemeriksaan laboratorium yang
dapat dilakukan adalah pemeriksaan serologic Widal, yaitu identifikasi antibodi
tubuh terhadap demam tiphoid (tifus), atau penentuan kadar aglutinasi
antibodi terhadap antigen O dan H dalam darah” (farida, hesti, lucyana, 19).
Epidemiologi
Demam
tifoid dan paratifoid ademik di Indonesia. Penyakit ini jarang ditemukan secara
epidemik, lebih bersifat poradis, terpencar-pencar di suatu daerah,dan jarang
terjadi lebih dari satu kasus pada orang-orang serumah.
Siklus hidup
.Masuknya bakteri ini ke
dalam tubuh manusia yang paling sering dicapai dengan konsumsi makanan dan
minuman yang kurang terjaga kebersihannya dan sudah tercemar oleh bakteri ini,
dan apabila tertelan, organisme berkembangbiak di usus kecil.
Pathogenesis
Asam
lambung bagian dari system pertahanan non spesifik, merupakan salah satu
barrier utama yang dapat mematikan mayoritas kuman penyebab infeksi saluran
cerna.
Patofisiologi
Lambung
memusnahkan sebagian kuman. kadar asam meningkat sehingga penderita mengalami
mual dan muntah. kuman-kuman yang sudah lolos akan hidup di usus sehingga
terjadi perporasi menyebabkan gejala nyeri tekan dan mengakibatkan gangguan
nyeri.
Perawat
harus bisa memberikan pendidikan keperwatan terhadap masyarakat mengenai
kebersihan lingkungan agar tidak terjangkit demam tifoid.
Penatalaksanaan
Menurut (Haryono. R, 2012), adapun penatalaksanaan
yang dapat dilakukan
pada pasien demam tifoid adalah : Perawatan, Diet,
Obat.
pengobatan tifus
“demam
tifoid jika tidak diobati akan menimbulkan relaps,
Kambuh atau relaps dapat terjadi dan berlangsung dalam waktu
yang pendek pada mereka yang mendapatkan infeksi ringan” (fika, 2016:4). maka
dari itu pengobatan harus dilakukan. pertama harus makan dengan bubur
saring. Kedua, dengan bubur kasar dan
terakhir dengan nasi.hal itu untuk mehindari pendarahan pada usus. Dengan pemberian asuhan keperawatan secara cepat,
tepat dan sistematis berupa pengawasan komplikasi dengan memonitor tanda-tanda
vital, mengobservasi keadaan abdomen dan tingkat kesadaran, memperhatikan
konsumsi obat secara teratur serta didukung dengan nutrisi (lelly, 2013).
Pencegahan
-“setiap
individu harus memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang mereka konsumsi”
(seftian, 2016:8).
-“perlunya
pendidikan kesehatan pada responden untuk meningkatkan pengetahuan tentang
demam tifoid dan adanya pelaksanaan kebersihan lingkungan agar responden tidak
terjangkit penyakit demam tifoid” (Sylvie, maulina:4).
-“Masyarakat
diharapkan lebih memperhatikan kebersihan makanaan dan minuman yang dikonsumsi
dengan mengurangi kebiasaan makan diluar rumah” (wulandari, dina, rahayu,
2015).
-Setiap
individu harus selalu mementingkan
perilaku hidup bersih dan sehat.
KESIMPULAN
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa
masyarakat harus waspada terhadap kebersihan lingkungan dan kualitas makanan
dan minuman agar tidak menjadi sarang bakteri dan agar tidak terjangkit penyakit tifus dengan cara mencuci
tangan sebelum makan dan mengurangi kebiasaan makan makanan dari luar. Begitupun dengan seorang perawat ketika menangani
pasien harus ditangani sesuai dengan asuhan keperawatan secara cepat, tepat dan sistematis.
DAFTAR
RUJUKAN
HANDAYANI, F. I.
(2015). Pengaruh pola makan dan personal hygiene dengan
kejadian
demam tifoid berulang di wilayah kerja Puskesmas Peterongan (Doctoral
dissertation, Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum).
Hanim, I.
(2017). Karakteristik Penderita Tifus Abdominalis Pada Anak Yang Dirawat
Inap
Di RSU Sundari Medan Tahun 2016.
Herliani, D.
(2016). Hubungan Antara Faktor Risiko Dengan Kejadian Demam Tifoid
Pada
Pasien Yang Di Rawat Di Rumah Sakit Al-Islam Bandung Periode Februari-Juni 2015
(Doctoral dissertation, Fakultas Kedokteran (UNISBA)).
Maqhfiroh, S. L.
PENGARUH INDUKSI CACING TANAH (Pheretima javanica K.)
SEGAR
TERHADAP PENYEMBUHAN PENYAKIT TIFUS PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus B.)
JANTAN DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI BUKU ILMIAH POPULER.
Maulani, R. P.
(2012). Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Siswa Terhadap
PHBS
dan Penyakit Demam Tifoid Di SMP" X" Kota Cimahi Tahun 2011 (Doctoral
dissertation, Universitas Kristen Maranatha).
Maulina, M.
(2016). PERILAKU PENCEGAHAN PENYAKIT DEMAM TIFOID
PADA
MAHASISWA. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Keperawatan, 1(1).
Maulina, M.,
& De Nanda, S. (2017). Perbedaan Pengetahuan Mahasiswa Laki-Laki
Dan
Perempuan Tentang Pencegahan Penyakit Demam Tifoid. Idea Nursing Journal, 8(2),
50-55.
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA A. PENGERTIAN Tipes atau thypus ...
Nugraha, D. S.
W. (2012). Asuhan Keperawatan Pada Tn. R Dengan Gangguan Sistem
Pencernaan:
Typhus Abdominalis Di Ruang Bougenville RSUD Pandanarang Boyolali (Doctoral
dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakrta).
Paputungan, W.
(2016). Hubungan Antara Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Dengan
Kejadian
Demam Tifoid Di Wilayah Kerja Puskesmas Upai Kota Kotamobagu Tahun 2015.
PHARMACON, 5(2).
PDFeprints.ums.ac.id
› BAB_II
Sari, L. Y.
(2013). Asuhan Keperawatan Pada Tn. W Dengan Gangguan Sistem
Pencernaan:
Typoid Abdominalis Di Bangsal Dahlia RSUD Banyudono (Doctoral dissertation,
Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Soelistijadi, R.
(2011). VISUALISASI PEMBUATAN OBAT TRADISIONAL
DENGAN
MENGGUNAKAN MULTIMEDIA BUILDER. Jurnal Dinamika Informatika, 3(2).
Susilo, H.,
Sawitri, M., & Ratnawati, M. (2015). GAMBARAN SIKAP IBU DALAM
PENCEGAHAN
DEMAM THYPHOID PADA ANAK USIA 5-9 TAHUN DI DESA PETERONGAN KECAMATAN PETERONGAN
KABUPATEN JOMBANG. Jurnal Metabolisme Vol. 2 No. 4 Oktober 2013, 2(4).
Welong,
S. S., Ratag, B. T., & Bernadus, J. (2017). ANALISIS FAKTOR RESIKO
KEJADIAN DEMAM TIFOID PADA PASIEN
RAWAT INAP DI RUMAH
SAKIT ADVENT MANADO TAHUN 2016.
KESMAS, 6(3).
WIYATA,
B. LAPORAN RESMI LABORATORIUM BAKTERIOLOGI"
PEMERIKSAAN SALMONELLA"
Penyusun: INESTY ELLANANDA R
(30113070).
YUSUF,
M. K. (2018). ANALISIS SURVIVAL LAMA WAKTU SEMBUH
DENGAN PERAWATAN STANDAR PADA PASIEN
RAWAT INAP
PENYAKIT TIFUS DENGAN MENGGUNAKAN
METODE REGRESI COX
PROPORTIONAL HAZARD.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar