Selasa, 09 Oktober 2018

PENCEGAHAN PLAGIARISME


PENCEGAHAN PLAGIARISME DALAM KEHIDUPAN MAHASISWA

Siti Rahmawati
S.Tr Keperawatan Lawang
Watirahma428@Gmail.com


Plagiarisme adalah mencuri, menjiplak ide atau karya tulis orang lain untuk dijadikan karya tulisan sendiri tanpa menyebutkan penulis atau sumber aslinya.
Plagiat merupakan pengambilan karangan (pendapat tersebut) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan atau pendapat sendiri, misalnya menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri Orang yang melakukan plagiat disebut plagiator atau penjiplak” ( Aziz, 2015:3).
 Plagiarisme bisa berakibat fatal bagi penulis dan semua pihak karna bisa merusak atau menurunkan citra dan kepercayaan publik. Dengan begitu baik individu ataupun masyarakat harus memiliki tanggung jawab dan kesadaran masing-masing untuk mencegah dan menghindari perbuatan plagiasi dalam bentuk apapun.
Jenis plagiarisme
Ø  plagiarisme total adalah plagiasi yang dilakukan oleh penulis dengan menjiplak semua hasil karya orang lain dan menjadikan seb bagai karyanya sendiri.
Ø  plagiarisme parsial adalah plagiasi yang dilakukan oleh sesorang penulis dengan menjiplak sebagian hasil karya orang lain untuk menjadi adalahh asil karyanya sendiri.
Ø  auto-plagiasi (self-plagiarisme) adalah plagiasi yang dilakukan oleh seorang penulis
terhadap karyanya sendiri, baik sebagian maupun seluruhnya.
Ø  plagiarisme antar bahasa adalah plagiasi yang dilakukan oleh seorang penulis
dengan menerjemahkan karya tulis berbahasa asing ke dalam bahasa
Indonesia.
(lako, 2012)
pemicu terjadinya plagiarisme
v  keterbatasan waktu, mendorong seseorang untuk melakukan jalan pintas atau copy paste karya tulis orang lain.
v  malas membaca.
v  tidak memiliki pemaham luas tentang bagaimana harus melakukan kutipan.
v  kuranya perhatian dari dosen terhadap tindakan plagiarisme.
v  plagiarisme tidak dianggap sebagai bentuk kejahatan.
v  berkembangnya teknologi.
v  kurangnya semangat belajar.
v  sanksi plagiat masih sebatas sanksi admisnistratif. (istiana, 2014:7)
kebanyakan mahasiswa sekarang dalam menulis artikel atau tugas perkuliahan menggunakan plagiasi agar mudah dan cepat dikumpulkan. pengutipan secara ilegal, peminjaman ide dalam jumlah yang berlebihan tidak jarang di jumpai di kalangan mahasiswa (purnawan, 2017). Seharusnya sebagai mahasiswa dalam mengerjakan artikel harus menggunakan sumber-sumber yang tersedia dan terpercaya dan menuangkan ide-idenya tanpa melakukan plagiarisme. Supaya tidak menjadi plagiator mahasiswa harus mengerjakan artikel dengan cara :
·         sebelum membuat makalah, ketika dosen dianggap tokoh yang paling penting dalam memberikan informasin maka dosen harus memberikan peran maksimal terhadap mahasiswa agar tidak melakukan tindakan plagiarisme yaitu dengan memberikan langkah-langkah atau cara-cara agar mahasiswa tidak melakukan plagiarisme.
·         Mencari referensi, “berbagai referensi ilmiah banyak tersedia melalui media cetak dan elektronik” (widiyartono, 2015:13) contohnya di https://scholar.google.co.id/ , http://gareudaristekdikti.go.id/ , https://www.researchgate.net/ dan https://doaj.org/ .
·         Mengutip ide orang lain baik secara langsung ataupun tidak langsung.
 Jika menulis dengan kutipan langsung harus meringkas kutipan kurang dari 40 kata dan harus menggunakan tanda kutip disertai dengan penulis aslinya. Contohnya “Tifus Abdominalis merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran” (isna, 2017:1).  Tetapi, jika menulis dengan kutipan tidak langsung penulis harus merangkai kalimat sendiri dan berbeda dengan apa yang ditulis penulis aslinya (widiyartono, 2015:18).
·         Memberi daftar rujukan, “daftar rujukan ini ditulis jika dalam tulisan memang menggunakan rujukan dari orang lain/menggunakan kutipan” (widiyartono, 2015:68).
·         Mengecek plagiat, mengecek plagiarisme bisa menggunakan secara online.
Pertama, kita harus membuka http://smallseotools.com/plagiarism-checker/ .
kedua, upload documen atu copy documen dan tempel pada kotak yang sudah disediakan pada smallseotools
ketiga, klik tombol check for plagiarism dan tunggu berapa presentase plagiasinya.

Ilmu pengetahuan harus dikembangkan berdasarkan ilmu pengetahuan yang sudah ada.maka dari itu mahasiswa tidak perlu ragu-ragu ketika menyusun artikel atau karya ilmiah dengan menyebutkan sumber rujukan atau nama penulis aslinya. Kejujuran tidak akan menurunkan kualitas bagus atau tidaknya karya tulis kita. “hasil pemikiran atau gagasan seseorang yang dituangkan ke ranah publik adalah tetap menjadi hak atau property dari penulisnya, semacam kekayaan intelektual yang tidak bisa dengan mudah diambil begitu
saja
” (purnawan, 2017:39).  









Daftar Rujukan

Lako, A. (2012). Plagiarisme Akademik. Semarang. Harian Jawa Pos Radar Semarang. Dalam http://storage. kopertis6. or. id/ARTIKEL% 20PLAGIARISME% 20AKADEMIK1. pdf.
Purnawan, A. PENANAMAN PERILAKU ANTI-PLAGIASI DALAM PERKULIAHAN WRITING FOR ACADEMIC ASSIGNMENTS. Diksi25(1).
Aziz, L. A. (2015). Upaya Perpustakaan Dalam Mengurangi Plagiarisme Pada Karya Ilmiah Mahasiswa (Studi Kasus Di Upt Perpustakaan Unika Soegijapranata). Jurnal Ilmu Perpustakaan4(3), 131-140.
Purwani Istiana, S. I. P., & Geografi–UGM, P. F. PERPUSTAKAAN DAN PLAGIARISME.
Widyartono, D. (2015). PANDUAN MENULIS KARYA ILMIAH DI PERGURUAN TINGGI. Malang:UM







PENYEBAB TIFUS


TIFUS DISEBABKAN OLEH BAKTERI YANG TERDAPAT PADA MAKANAN DAN MINUMAN YANG SUDAH TERKONTAMINASI

Siti Rahmawati
S.Tr Keperawatan Lawang
Watirahma428@Gmail.com



ABSTRAK : Penyakit tifus disebabkan oleh bakteri salmonella yang merupakan bakteri gram negative. Salmonella merupakan bakteri tidak berspora, berbentuk batang, dan bersifat garam negatif. Ukuran bakteri salmonella adalah 1-3.5µm x 0.5-0.8µm.Salmonella tahan terhadap bahan kimia tertentu dan tahan terhadap air yang membeku pada waktu yang lama.
penyakit tifus adalah penyakit infeksi akut yang terdapat dalam saluran cerna. Jika terlambat mengobati infeksi ini bisa berakibat fatal karna kekebalan tubuh yang sangat berkurang. Gejala yang dialami biasanya dengan mual-mual, muntah, bahkan sampai kematian. Pencegannya bisa dengan mencuci tangan sebelum makan dan menjaga kebersihan makanan yang akan dikonsumsi.

KATA KUNCI : penyebab, bakteri,gejala, kebersihan.

PENDAHULUAN
Sekarang ini di Indonesia masih banyak yang terjangkit tifus
“tifus disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi yang terdapat pada makanan maupun air yang terkontamina” (nur, fatmawati, utami, 2017:87). Tifus merupakan penyakit infeksi bakterial akut oleh kuman Salmonella Typhi. Kurang terjaganya pemeliharaan kebersihan adalah penyebab  timbulnya penyakit tifus menurut (farida, hesti, Luciana, 2007). “Tifus Abdominalis merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran” (isna, 2017:1). penyakit tifus adalah infeksi penyakit akut yang terdapat dalam saluran pencernaan dengan ganguan kesadaran dan gejala demam yang lebih dari satu minggu menurut (inesty, 2014).

Tifus disebabkan oleh bakteri salmonella penyakit infeksi akut di usus halus pada makanan atau air yang sudah tekontaminasi dan kurangnya pemeliharaan kebersihan  yang menyebabkan demam disertai dengan gangguan kesadaran. (inesty, 2004) “Salmonella banyak ditemui pada makanan-makanan yang tidak dibuat atau diproduksi secara higiens, oleh karena itu sebaiknya kita menghindari ataupun mengurangi makanan yang kurang higienis”.

Bakteri salmonella dibagi menjadi 3 spesies yaitu
1.salmonella typhosa
2.salmonella choleraisius
3.salmonella entereditis  (rampengan, 2007).

Etiologi
“Etiologi demam tifoid adalah salmonella enteritica serovar typhi” (repository.unisba.ac.id).
Menurut nasronudin salmonella typhi dibagi menjadi 3 macam gen:
-antigen O (somatik) struktur kimia lipopolisakarida, pada tubuh bakteri terletak pada lapisan luar, tahan terhadap panas tapi tidak tahan terhadap formaldehid
-Antigen h (flagella) tahan terhadap formaldehit tapi tidak denganpanas dan alcohol
-Antigen vi (virulen) polisakarida dan melindungi permukaan sel
-Antigen tersebut menimbulkan antibody agglutinin.
Dalam masyarakat penyakit ini biasa disebut dengan tipes atau tifus tapi dalam kedokteran penyakit ini biasa disebut dengan typhoid fever. Penyakit tifus pada orang dewasa biasanya lebih berat dibandingan dengan anak. Awal gejala yang dialami biasanya demam, nyeri kepala, pusing, mual, muntah serta diare (rempengan, 2007). Gejala tifus terjadi selama 10 sampai 20 hari. Jika gejala yang dialami demam,suhu tubuh tidak meningkat terlalu tinggi. minggu pertama suhu tubuh terus minggat setiap hari biasanya menurun dipagi hari dan meningkat di malam hari. Pada minggu kedua demam sepanjang hari dan pada minggu ketiga suhu mulai turun dan normal kembali (Hassan, 2007).

Demam pada anak lebih rendah tidak seperti pada orang dewasa.
Gejala gangguan saluran pencernaan pada tifus ditandai dengan bau nafas yang tidak sedap, bibir pecah dan kering serta perut kembung. Beberapa hari setelah panas meningkat lidah terlihat kering dan dilapisi dengan selaput tebal. Gejala gangguan kesadaran pada tifus umumnya menurun. Jika penyakitnya berat dan terlambat menjalani pengobatan pasien akan mengalami koma atau gelisah. Gejala pada badan minggu pertama demam terdapat bintik-bintik kemerahan karena emboli basil di dalam kapiler kulit. Kadang juga ditemukan bradikardia dan epistaksis pada remaja (Hassan, 2007). Pada akhir minggu pertama dan awal minggu kedua terjadi roseola (rampengan, 2007).
“Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan serologic Widal, yaitu identifikasi antibodi tubuh terhadap demam tiphoid (tifus), atau penentuan kadar aglutinasi antibodi terhadap antigen O dan H dalam darah” (farida, hesti, lucyana, 19).

Epidemiologi
Demam tifoid dan paratifoid ademik di Indonesia. Penyakit ini jarang ditemukan secara epidemik, lebih bersifat poradis, terpencar-pencar di suatu daerah,dan jarang terjadi lebih dari satu kasus pada orang-orang serumah.

Siklus hidup
.Masuknya bakteri ini ke dalam tubuh manusia yang paling sering dicapai dengan konsumsi makanan dan minuman yang kurang terjaga kebersihannya dan sudah tercemar oleh bakteri ini, dan apabila tertelan, organisme berkembangbiak di usus kecil.

Pathogenesis
Asam lambung bagian dari system pertahanan non spesifik, merupakan salah satu barrier utama yang dapat mematikan mayoritas kuman penyebab infeksi saluran cerna.

Patofisiologi
Lambung memusnahkan sebagian kuman. kadar asam meningkat sehingga penderita mengalami mual dan muntah. kuman-kuman yang sudah lolos akan hidup di usus sehingga terjadi perporasi menyebabkan gejala nyeri tekan dan mengakibatkan gangguan nyeri.
Perawat harus bisa memberikan pendidikan keperwatan terhadap masyarakat mengenai kebersihan lingkungan agar tidak terjangkit demam tifoid.

Penatalaksanaan
Menurut (Haryono. R, 2012), adapun penatalaksanaan yang dapat dilakukan
pada pasien demam tifoid adalah : Perawatan, Diet, Obat.

pengobatan tifus
“demam tifoid jika tidak diobati akan menimbulkan relaps, Kambuh atau relaps dapat terjadi dan berlangsung dalam waktu yang pendek pada mereka yang mendapatkan infeksi ringan” (fika, 2016:4). maka dari itu pengobatan harus dilakukan. pertama harus makan dengan bubur saring.  Kedua, dengan bubur kasar dan terakhir dengan nasi.hal itu untuk mehindari pendarahan pada usus. Dengan pemberian asuhan keperawatan secara cepat, tepat dan sistematis berupa pengawasan komplikasi dengan memonitor tanda-tanda vital, mengobservasi keadaan abdomen dan tingkat kesadaran, memperhatikan konsumsi obat secara teratur serta didukung dengan nutrisi (lelly, 2013).

Pencegahan
-“setiap individu harus memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang mereka konsumsi” (seftian, 2016:8).
-“perlunya pendidikan kesehatan pada responden untuk meningkatkan pengetahuan tentang demam tifoid dan adanya pelaksanaan kebersihan lingkungan agar responden tidak terjangkit penyakit demam tifoid” (Sylvie, maulina:4).
-“Masyarakat diharapkan lebih memperhatikan kebersihan makanaan dan minuman yang dikonsumsi dengan mengurangi kebiasaan makan diluar rumah” (wulandari, dina, rahayu, 2015).
-Setiap individu harus  selalu mementingkan perilaku hidup bersih dan sehat.
KESIMPULAN
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat harus waspada terhadap kebersihan lingkungan dan kualitas makanan dan minuman agar tidak menjadi sarang bakteri dan agar tidak  terjangkit penyakit tifus dengan cara mencuci tangan sebelum makan dan mengurangi kebiasaan makan makanan dari luar. Begitupun dengan seorang perawat ketika menangani pasien harus ditangani sesuai dengan asuhan keperawatan secara cepat, tepat dan sistematis.




























DAFTAR RUJUKAN

HANDAYANI, F. I. (2015). Pengaruh pola makan dan personal hygiene dengan
kejadian demam tifoid berulang di wilayah kerja Puskesmas Peterongan (Doctoral dissertation, Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum).
Hanim, I. (2017). Karakteristik Penderita Tifus Abdominalis Pada Anak Yang Dirawat
Inap Di RSU Sundari Medan Tahun 2016.
Herliani, D. (2016). Hubungan Antara Faktor Risiko Dengan Kejadian Demam Tifoid
Pada Pasien Yang Di Rawat Di Rumah Sakit Al-Islam Bandung Periode Februari-Juni 2015 (Doctoral dissertation, Fakultas Kedokteran (UNISBA)).
Maqhfiroh, S. L. PENGARUH INDUKSI CACING TANAH (Pheretima javanica K.)
SEGAR TERHADAP PENYEMBUHAN PENYAKIT TIFUS PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus B.) JANTAN DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI BUKU ILMIAH POPULER.
Maulani, R. P. (2012). Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Siswa Terhadap
PHBS dan Penyakit Demam Tifoid Di SMP" X" Kota Cimahi Tahun 2011 (Doctoral dissertation, Universitas Kristen Maranatha).
Maulina, M. (2016). PERILAKU PENCEGAHAN PENYAKIT DEMAM TIFOID
PADA MAHASISWA. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Keperawatan, 1(1).
Maulina, M., & De Nanda, S. (2017). Perbedaan Pengetahuan Mahasiswa Laki-Laki
Dan Perempuan Tentang Pencegahan Penyakit Demam Tifoid. Idea Nursing Journal, 8(2), 50-55.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. PENGERTIAN Tipes atau thypus ...
Nugraha, D. S. W. (2012). Asuhan Keperawatan Pada Tn. R Dengan Gangguan Sistem
Pencernaan: Typhus Abdominalis Di Ruang Bougenville RSUD Pandanarang Boyolali (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakrta).
Paputungan, W. (2016). Hubungan Antara Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Dengan
Kejadian Demam Tifoid Di Wilayah Kerja Puskesmas Upai Kota Kotamobagu Tahun 2015. PHARMACON, 5(2).
PDFeprints.ums.ac.id › BAB_II
Sari, L. Y. (2013). Asuhan Keperawatan Pada Tn. W Dengan Gangguan Sistem
Pencernaan: Typoid Abdominalis Di Bangsal Dahlia RSUD Banyudono (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Soelistijadi, R. (2011). VISUALISASI PEMBUATAN OBAT TRADISIONAL
DENGAN MENGGUNAKAN MULTIMEDIA BUILDER. Jurnal Dinamika Informatika, 3(2).
Susilo, H., Sawitri, M., & Ratnawati, M. (2015). GAMBARAN SIKAP IBU DALAM
PENCEGAHAN DEMAM THYPHOID PADA ANAK USIA 5-9 TAHUN DI DESA PETERONGAN KECAMATAN PETERONGAN KABUPATEN JOMBANG. Jurnal Metabolisme Vol. 2 No. 4 Oktober 2013, 2(4).
Welong, S. S., Ratag, B. T., & Bernadus, J. (2017). ANALISIS FAKTOR RESIKO
            KEJADIAN DEMAM TIFOID PADA PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH
            SAKIT ADVENT MANADO TAHUN 2016. KESMAS, 6(3).
WIYATA, B. LAPORAN RESMI LABORATORIUM BAKTERIOLOGI"
            PEMERIKSAAN SALMONELLA" Penyusun: INESTY ELLANANDA R
            (30113070).
YUSUF, M. K. (2018). ANALISIS SURVIVAL LAMA WAKTU SEMBUH
            DENGAN PERAWATAN STANDAR PADA PASIEN RAWAT INAP
            PENYAKIT TIFUS DENGAN MENGGUNAKAN METODE REGRESI COX
            PROPORTIONAL HAZARD.


Minggu, 07 Oktober 2018

artikel kecintaan generasi muda terhadap bahasa indonesia


BERKURANGNYA KECINTAAN GENERASI MUDA TERHADAP BAHASA INDONESIA

Siti Rahmawati
S.Tr Keperawatan lawang


Bahasa Indonesia merupakan bahasa melayu yang sudah ada sejak zaman dahulu. Bahasa melayu menjadi cikal bakal bahasa Indonesia karena memiliki peranan dan kedudukan yang cukup penting. Bahasa Indonesia berkembang cukup pesat. Masyarakat  Indonesia seharusnya bangga dan menjaga bahasa Indonesia sebagai bahasa pesatuan. Tetapi, generasi muda lebih bangga dengan bahasa asing dibandingkan dengan bahasa Indonesia.

Generasi muda menganggap bahasa Indonesia lebih rendah derajadnya karena terlalu sering menggunakan bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari.Teknologi  yang semakin canggih berdampak negatif terhadap generasi muda dalam bahasa Indonesia.  Contohnya mendengarkan musik, umumnya pada zaman sekarang generasi muda lebih suka dengan musik luar negeri. Jika dilihat dengan nilai-nilai moral dan pendidikan bahasa tersebut sangat tidak relevan dalam kehidupan bangsa indonesia.

Generasi   muda tidak tahu akan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia  karena tidak tertanamnya rasa cinta bahasa indonesia dalam jiwa dan raga. Perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan bahasa Indonesia tidaklah mudah . bangsa Indonesia berkorban melawan penjajah dari segala penindasan dan penghinaan  selama bertahun-tahun untuk mewujudkan adanya sumpah pemuda. Tanggal 28 oktober 1928 pemuda Indonesia mengikrarkan sumpah pemuda yang berbunyi  “kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Yang artinya  kedudukan bahasa Indonesia  sebagai bahasa nasional berada di atas bahasa-bahasa daerah.

Bahasa Indonesia saat ini mulai hilang dalam jiwa generasi muda. Generasi muda mencapurkan bahasa-bahasa asing sehingga ejaan yang disempurnakan tidak diindahkan lagi. Zaman sekarang  orang tua membiasaksan anak-anak dari usia dini  menggunakan bahasa asing. Tidak heran jika remaja sekaran g enggan berbahasa Indonesia.

Sebagai generasi muda zaman sekarang harus membekali diri dengan kemampuan yang bermanfaat terutama dalam bidang teknologi. Sebagai generasi muda sudah sepatutnya bangga menggunakan bahasa Indonesia dan tidak meninggikan bahasa asing. Sebagai generasi muda harus mampu menjaga, mengembangkan dan mempertahankan bahasa Indonesia dengan jiwa dan raga.

PENCEGAHAN PLAGIARISME

PENCEGAHAN PLAGIARISME DALAM KEHIDUPAN MAHASISWA Siti Rahmawati S.Tr Keperawatan Lawang Watirahma428@Gmail.com Plagiarisme a...